Ni Ketut Arini: Menari Adalah Pengabdian

Ni Ketut Arini Alit

[KOMPAS] – Menari tak sekadar meliukkan tubuh. Bagi Ni Ketut Arini (69), menari adalah karya suci. Sebuah pengabdian yang ditampilkan melalui teknik, ekspresi, dan konsentrasi. Pencapaian itu diperoleh setelah perempuan yang dikenal sebagai salah satu maestro tari Bali klasik ini menempuh jalan panjang dalam dunia tari.

Ia bagaikan pendekar dalam film kungfu yang ”berkelana” mencari guru, mengabdi pada sang guru, lalu mewarisi ilmu tari yang diturunkan para gurunya. Setelah menguasai ilmu yang diajarkan, ia mengembangkan karya tari peninggalan sang guru. Ia juga menciptakan bentuk tari baru yang berakar pada tradisinya.

Itulah cara Arini menahan gempuran budaya kontemporer agar anak-anak Bali tetap lekat dengan budayanya. Ia melihat betapa generasi muda mulai berpaling dari tradisi yang ditinggalkan leluhur.

”Kalau hal itu tidak disiasati, seni tradisi kita akan benar-benar hilang,” kata Arini sebelum ia mementaskan tari Condong pada acara Maestro! Maestro! #7 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir pekan lalu.

Arini dikenal sebagai maestro tari Condong, yang mengisahkan tokoh pembantu putri raja. Tokoh pembantu ini selalu ditampilkan pada drama tari Bali sesuai perkembangan zamannya, mulai tari Gambuh (drama tari dengan dialog), tari Arja (drama tari dengan nyanyian), dan Legong (tari yang diiringi gamelan pelegongan).

Arini yang mendalami sejarah tari mengatakan, Gambuh adalah tarian tertua di Bali yang berkembang sekitar abad ke-15, jauh sebelum tari Arja tercipta di Bali sekitar tahun 1911. Adapun tari Legong baru muncul sekitar tahun 1915 di bagian utara Bali. Ia menguasai ketiga jenis tarian Condong, baik Condong Gambuh, Condong Arja, maupun Condong Legong.

Gambuh memakai dialog bahasa Kawi yang sudah jarang dikenal seniman tari. Ia bisa menguasai Gambuh sejak 1967. ”Sekarang hanya ada beberapa desa yang masih memiliki Gambuh,” kata Arini. Gambuh sulit dipelajari karena lagunya begitu panjang. Ia sendiri membutuhkan hampir satu tahun untuk menghafalkan lagu pada Gambuh.

Selain Condong, ia juga menghidupkan kembali tari Legong klasik yang nyaris ditinggalkan penerusnya. Di Bali ada 14 gaya tari Legong klasik, dan ia menguasai enam di antaranya, yaitu Legong Pelayon, Lasem, Kuntul, Kuntir, Jobog, dan Semarandhana. Keenam tarian itu ia ajarkan di sanggarnya.

Pada 2010 ia bersama temannya mendokumentasikan enam tari Legong itu untuk arsip Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan menjadi bahan ajar mahasiswa tari.

Tari peninggalan para gurunya itu sudah lama ia ajarkan kepada muridnya di sanggar tari Bali ”Warini”. Muridnya tak hanya datang dari sekitar sanggar, tetapi juga dari negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Swiss.

Sanggar itu ia dirikan tahun 1973, dan sampai kini setiap tahun meluluskan sekitar 100 siswa tari. Arini punya cara agar tari klasik Bali tetap dipelajari generasi muda. ”Anak-anak biasanya cepat bosan karena tari klasik membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya.”

Untuk mengajarkan gerakan secara bertahap, ia menggunakan gamelan dan gong sebagai pengiring gerakan. Ia tak memakai hitungan untuk setiap gerakan yang dilakukan.

”Dengan iringan gamelan, anak-anak merasa sudah menari dan itu membuat mereka bersemangat,” kata Arini yang menjalani misi kesenian ke luar negeri sejak 1965.

Pengembaraan

Pengembaraan Arini di dunia tari dijalani sejak berusia 10 tahun. Ia lahir dari keluarga penari. Ayah dan neneknya adalah penari, sedangkan kakaknya seorang dalang. Namun, sejak kecil ia justru belajar menari kepada I Wayan Rindi, pamannya.

Bagi dia, lahir dari keluarga penari belum tentu punya bakat tari. Keterampilan tari bukan diwariskan, tetapi harus dipelajari dengan ketekunan dan kesungguhan hati.

”Saya setiap hari melihat paman melatih tari, lalu pengin bisa seperti paman mengajarkan tari,” katanya.

Arini seperti haus ilmu tari. Setelah belajar dari pamannya, ia berguru kepada I Nyoman Kaler yang pernah menjadi guru di desanya, Banjar Lebah, pada 1933 – 1950. Kaler menciptakan 10 karya tari, salah satunya Legong Kebyar yang diciptakan tahun 1935.

Legong Kebyar pernah terkenal di Bali, lalu hilang karena tak ada yang menarikannya. Keberadaan tarian itu hanya diceritakan di buku-buku. Suatu hari, Arini ditanya Rucina Balinger, muridnya dari AS.

”Balinger bertanya, apa harapan Ibu yang belum kesampaian? Saya bilang, saya ingin hidupkan lagi tarian guru saya, Pak Kaler,” kata Arini mengenang.

Tahun 2004 keduanya bekerja sama mengangkat kembali karya I Nyoman Kaler, antara lain tari Panji Semirang, Mregapati, Wiranata, Demang Miring, Candrametu, Puspawarna, Bayan Nginte, Kupu-kupu Tarum, dan Legong Kebyar.

Mereka menggali lagi karya Kaler lewat simposium dan pementasan yang ditarikan tiga penari lanjut usia, dewasa, dan remaja. Prof I Made Bandem, Prof I Wayan Dibia, dan I Wayan Dia dari Jakarta, adalah saksi saat Kaler mengajar di Banjar Lebah tahun 1933-1950.

Namun, karena tari Bali klasik mulai tergerus sekitar 1990-an, banyak pemilik sanggar menjual gamelan mereka, terutama gamelan pelegongan untuk mengiringi tari Legong.

Dianggap kurang menarik

Keinginan menjadi seniman tari muncul dari Arini tanpa paksaan orangtua. Ia bahkan pernah tak boleh menari karena kulitnya yang gelap dianggap kurang menarik. Namun, larangan itu justru membuatnya bersemangat. Dari Denpasar ia belajar menari kepada Pak Mario di Tabanan, dan Pak Lokasabha di Gianyar. Kaki kecilnya giat mengayuh sepeda ke tempat latihan.

Ia juga belajar pada Biang Sengok, penari tua yang menguasai tari Legong gaya Peliatan. Gurunya itu galak, rambutnya sering dijambak ke belakang bila kepalanya kurang tegak saat menari. Jika ada postur tubuh yang salah, sang guru tak segan-segan mendorong atau menekan badannya.

”Di sini saya belajar sikap sempurna berbagai gaya, yang membutuhkan disiplin tinggi,” ujarnya. Pada usia 14 tahun ia sudah mengajar tari di Karang Asem, berkat dorongan pamannya.

Pada 1963 ia menjadi guru tari di sanggar-sanggar. Semula ia berniat kuliah di Konservatori Karawitan Denpasar. ”Tetapi guru saya bilang, kalau saya kuliah tak ada yang meneruskan mengajar tari karena guru-guru saya sudah tua,” kata Arini yang lalu menunda kuliahnya. Empat tahun kemudian, setelah punya anak satu, ia baru kuliah di jurusan seni tari dan memperdalam sejarah tari.

Pada usia senja, Arini masih menari dengan energik. Ia tak bosan menari karena membuat hatinya senang. Kesenangan itu yang dia tularkan kepada orang lain. Ia diundang pentas dan mengajar di luar negeri. Ia juga menjadi pengajar rutin di Yayasan Sekar Jaya di AS yang didirikan muridnya. :: KOMPAS/Lusiana Indriasari/foto Iwan Setiawan/des2012

Leave a Reply