[cerpen] Pulang

Oleh: Endah Raharjo

pulang_cerpenAndai tatap mata bisa membunuh maka aku pasti telah mati ribuan kali.  Andai cercaan mampu mendera tubuhku seperti cemeti maka robek-robeklah kulitku pasti. Namun aku tetap tegak dan baik-baik saja karena aku kuat sekaligus liat. Dengan segenap tenaga aku berusaha mengabaikan tatapan mata yang menusuk dan cercaan yang pedih walaupun kadang aku takut dan gelisah.

Seperti pagi itu, aku mencoba meredakan kegelisahanku dengan menyiangi tanaman. “Kamu pulang nggak Lebaran ini, Niek?” tanya Rita sambil membersihkan lumpur kering dari sela-sela jeruji roda motor gedenya. Suaranya yang berat tidak menyiratkan emosi. Baginya tidak penting apakah Lebaran ini aku mau pulang untuk menengok keluargaku atau tidak walaupun tiap tahun dia selalu menanyakan hal yang sama. Tangannya yang maskulin dengan lincah menggosok-gosok tiap batang jeruji. “Entahlah. Aku belum memutuskan”, jawabku datar.

Sudah empat kali Lebaran aku tidak pulang. Sejak keluarga besarku tahu aku hidup serumah dengan perempuan aku terkucilkan. Bahkan sebagian menganggap aku menjadi penyebab sakitnya Bapak yang berujung kematian dua tahun yang lalu.  Sebenarnya Ibu dan saudara-saudara kandungku berusaha untuk menerima pilihan hidupku. Tapi paklik-paklik dan bulik-bulik terutama dari pihak Bapak menganggap aku sebagai titisan setan. Mereka akan melakukan berbagai cara agar fotoku yang masih terpajang di salah satu dinding rumah Ibu tidak tertangkap oleh ekor mata mereka. Kalau bukan karena foto itu foto keluarga terakhir ketika Bapak masih ada, mereka pasti sudah meminta Ibu menggantinya dengan yang baru, yang tidak ada aku. Namaku juga sudah dihapus dari pohon keluarga.

Aku putuskan tidak menengok Ibu selama empat tahun karena aku tidak ingin Ibu ikut dijauhi saudara-saudara kandung dan ipar-iparnya. Aku tidak ingin mereka menghujatku melalui Ibu. Derita yang kubawa dalam hidupnya selama beberapa tahun terakhir ini cukup sudah. Toh aku masih bisa menghubunginya lewat telpon bila rasa kangenku mencapai ubun-ubun.

Bukannya aku berencana menjalin hubungan dengan sesama jenisku. Enam tahun yang lalu, ketika usiaku 30 tahun, salah satu bulikku membawa seorang laki-laki setengah baya ke rumah kami. “Niek, aku mau kenalkan kamu sama kerabat paklikmu. Dia duda. Tinggalnya di Semarang. Masih gagah dan ganteng dan kaya. Anaknya dua, sudah kuliah semua,” jelas Bulik Retno melalui telepon. Dia salah satu dari empat bulikku yang selalu rewel dan gelisah karena aku tidak juga menikah. Berkali-kali aku menjelaskan bahwa aku pasti akan menikah tapi mau menunggu laki-laki yang tepat.
 
Lima kali gagal menjalin cinta membuatku mati rasa. Mantan-mantan pacarku merasa kesulitan menerima diriku. Mereka menganggap aku dingin dan kaku. “Yang ini duda, Niek. Pasti dia mau menerimamu apa adanya,” bujuk Bulik Retno.

Untuk membuatnya diam, aku ikuti saja kemauan Bulik Retno. Menurutku tidak ada jeleknya berkenalan. Beberapa bulan kemudian, terungkap bahwa istri Si Duda sebenarnya belum meninggal. Ia sakit keras dan dipulangkan ke rumah orang tuanya dengan biaya ditanggung penuh oleh suaminya yang kemudian mengaku duda. Aku marah. Aku berteriak-teriak meluapkan rasa sakitku di depan keluarga besarku ketika mereka berkumpul di rumah kami untuk membujukku agar aku menerima saja lamarannya. Ini ibadah, begitu kata mereka. Sumber pahala tanpa batas untuk di akhirat kelak, jelas mereka pula. Setelah amarahku tumpah ruah, aku mengemasi barang-barangku dan pergi meninggalkan rumah. Kutinggalkan Bapak dan Ibu, dua adikku, dan pekerjaanku. Dua kakakku yang sudah berkeluarga dan masing-masing tinggal di lain kota gagal membujukku untuk pulang ke rumah Bapak dan Ibu.

Di saat aku berusaha menata kembali hidupku di tempat baru, aku bertemu Rita, pemilik bengkel khusus motor gede di dekat tempat kerjaku. Waktu itu hujan tiba-tiba turun dengan derasnya ketika aku melangkah keluar kantor menuju halte bis terdekat yang jaraknya agak jauh. Aku berteduh di depan bengkelnya yang kebetulan sedang sepi. Kukira ia laki-laki. Ia tengah duduk di bangku panjang bersilang kaki sambil menghisap rokok ketika mata kami bertemu. Dengan isyarat tangannya ia persilakan aku duduk di bangku panjang itu. Wajahnya mengingatkanku akan film-film Jepang. Sosok dan wajah itu pasti cocok untuk memerankan seorang tokoh samurai. Apalagi rambut lurusnya yang tebal yang diikat ke atas dan menyisakan helai-helai yang berjatuhan di kanan-kiri dekat telinganya. Tangannya yang kokoh diulurkannya, sambil menyebut namanya, “Rita”.  Ketika menangkap sepersekian detik sorot keraguan dari mataku ia berujar tenang, “Ya. Semua orang mengira aku laki-laki. Aku perempuan”, matanya menghangat dihias sedikit senyum yang maskulin. Entah kenapa jantungku berdegupan. Sejak itu, kami saling menyapa setiap kali aku berjalan melewati bengkelnya. Kadang-kadang aku mampir sebentar untuk sekedar basa-basi bila dia tidak sibuk. Aku menyukainya karena ia simpel dan enak diajak ngobrol.

Suatu sore aku menemukannya sudah berdandan rapi, nangkring di atas motor gedenya, di depan bengkelnya yang tampaknya tutup lebih awal. “Mau ikut, Niek?” ajaknya tanpa basa-basi. “Ikut? Kemana? Aku mau pulang. Capek. Tadi seharian meeting melulu,” jawabku. “Alah! Yang ini kamu pasti senang. Naik!” ditepuknya jok belakang motornya. Entah kenapa, seperti terhipnotis aku ikuti perintahnya. Dibantunya aku naik dan, entah kenapa juga, ada rasa aneh menyusup dari pori-poriku dan menjalar hingga ke jantungku ketika tangannya yang kuat itu menahan tubuhku yang akan jatuh karena sepatuku tersangkut. Kunikmati saja rasa aneh yang berubah menjadi hangat itu ketika Rita menarik kedua lenganku melingkari tubuhnya yang  besar dan tegap.

Rupanya ia membawaku hang-out dengan teman-temannya yang semuanya perempuan. Aku salah tingkah sepanjang malam. Dari sekian banyak perempuan itu, hanya Rita yang tampak maskulin dan bertubuh gagah, yang lainnya tidak beda dengan diriku. Bahkan ada beberapa yang berdandan sangat feminin dan cantik seperti bintang sinetron. Aku merasa semua teman-teman Rita yang berkumpul di tempat itu bisa mencium aroma kegelisahanku. ‘Santai, Niek,” kata salah seorang dari mereka, “Kami bukan virus. Cuma sekumpulan lesbian,” tambahnya ringan. Tanpa penjelasan itu aku sudah tahu karena itulah sumber salah-tingkahku.

Sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Aku banyak memikirkan Rita dan lengannya yang mantap merengkuhku. Aku juga merasa rindu bila tidak melihat sorot mata dan senyum samarnya sepulang kerja. Setiap akan keluar kantor aku berdoa agar dia mengajakku keluar  lagi naik motornya yang hitam mengkilat itu. Aku juga berdoa agar Rita menelponku. Sudah lebih sebulan sejak kami keluar bersama itu, dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengajakku lagi. Hanya tatap mata samurai dan senyum samarnya saja yang dilontarkan setiap kali aku melewati bengkelnya. Aku sempat berpikir bahwa Tuhan sengaja tidak mengabulkan doaku karena apa yang kuharapkan itu mungkin saja buruk. Bahkan dosa.

Tapi aku salah. Doaku terkabul. Suatu sore, setengah jam sebelum aku pulang kantor, Rita menelpon. Mengajakku keluar. Kurasakan darahku tiba-tiba menyembur ke atas, pasti memerahlah wajahku waktu itu. Aku merasa seperti remaja yang melonjak-lonjak kegirangan karena pemuda pujaannya menyapanya di gerbang sekolah. Awalnya aku berniat untuk merapikan dandananku, tapi aku berubah pikiran. Aku harus sedikit ja-im karena mungkin saja Rita tidak termimpi-mimpi seperti diriku. Bisa saja dia hanya bosan karena tidak ada teman dekatnya yang mau pergi berdua dengannya.

Rupanya kali ini pun aku salah. Dalam sikap tenangnya yang maskulin itu, Rita tidak menyembunyikan sorot matanya yang membiaskan rasa senang melihatku melangkah mendekatinya. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja tubuhku serasa ringan ketika ia ulurkan tangannya untuk merengkuhku. Kami berpelukan. Tidak ada yang luar biasa dari pelukan itu. Orang-orang yang lalu lalang mungkin hanya melihat dua orang sahabat yang saling memeluk karena lama tidak bertemu. Tapi bagiku, aku seperti masuk dalam ruang hangat yang menentramkan. Seolah-olah pelukan yang hanya sekian detik itu mampu menghapus kerinduanku akan rumah, akan Ibu, dan adik-kakakku. Aku serasa pulang.

Semuanya terjadi begitu alamiah. Sepertinya memang inilah jalan yang telah digariskan untukku. Hampir lima tahun hubungan kami berjalan. Aku merasa nyaman, aman, dan tenteram hidup bersama Rita.

***

“Kalau pengin pulang, baiknya cepet-cepet cari tiket”, kata Rita sambil memasukkan baju-baju yang habis diseterika ke lemari. “Kalau nunggu nanti-nanti pasti sulit. Lagian harganya pasti mahal,” tambahnya.

Aku tahu, Rita tidak punya kota atau kampung atau rumah lain untuk pulang. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku, teman-temannya, dan karyawan-karyawan bengkelnya yang dianggapnya keluarga. Sebenarnya keluarganya masih utuh tapi mereka tidak bisa menerima kondisi Rita. Pada awal-awal hubungan kami, dia bercerita tentang hal itu.

“Keluargaku, bahkan seisi kampung, menganggap aku sebagai sumber bencana dan aib keluarga. Sebelum aku pindah kesini aku harus ke Eropa dulu. Lima tahun. Aku dapat beasiswa jadi sekalian saja melarikan diri dari rumah,” jelasnya waktu itu. Baru setelah lulus dan selesai magang di sebuah bengkel ternama dia kembali ke Indonesia. Gelarnya tidak pernah dia pakai dan tidak pernah lagi menemui keluarganya. “Untuk apa? Cuma saling menyakiti. Mereka menganggap aku menyakiti mereka dan aku juga merasa disakiti dan tidak diterima”. Jadi Rita telah menganggap rumah miliknya ini sebagai satu-satunya rumah di mana dia pulang, setiap hari dan kapan saja dia butuh rasa tentram.
 
Tapi sekarang aku bimbang. Aku mendengar kabar kalau Ibu sakit. Aku tidak mau dituduh sebagai penyebab sakitnya Ibu setelah sebelumya aku dianggap telah membunuh Bapak dengan kehidupanku ini. “Ini bukan salahmu, Niek,” waktu itu Rita menentramkan aku. “Bapakmu mungkin marah karena kamu. Tapi kalau bapakmu itu kuat, dia seharusnya bisa mengatasi kemarahannya itu dan tidak membiarkan hal itu menggerogoti jiwanya”. Benar juga. Mungkin mereka mengira aku bersuka-ria dan sengaja menyakiti mereka dengan pilihan hidupku. Mereka tidak tahu bahwa ada saat yang menakutkan dan menyakitkan ketika berbulan-bulan aku sulit tidur karena dibayangi rasa bersalah. Aku dikejar hantuku sendiri. Tapi kemudian aku sadar, aku punya hak untuk menjalani hidupku dengan caraku. Dan kuusir hantu-hantu itu pergi.

Sejak itu aku jarang sekali gelisah. Kadang-kadang aku menelpon Ibu, kalau beliau mau menerima ya syukur kalau tidak ya tidak apa-apa. Aku memilih berdoa untuk Bapak dan Ibu setiap hari atau ketika aku takut dan gelisah atau kapan saja ingatanku melayang pada mereka.

“Apa nanti sekalian saja aku belikan tiket?” tanya Rita memutus lamunanku. Diraihnya kunci motor, siap berangkat kerja. Di hari Minggu Rita sering melayani panggilan dari pelanggan untuk datang ke rumah mereka merawat koleksi kendaraan mereka. Bayarannya jauh lebih tinggi. “Aku nanti mampir ke tempat Sandra”. Dia menyebutkan salah satu temannya yang punya biro perjalanan. Sebelum aku menjawab dia sudah menghilang.

***

Matahari baru saja muncul dan bumi masih malas menyambut sinarnya ketika sebuah taksi berhenti di depan rumah kami. Aku mengulur-ulur waktu pura-pura memilih-milih beberapa buku untuk kubaca di perjalanan. Rita sudah memasukkan koporku ke bagasi. “Niek, masih ada apa lagi?” teriaknya dari luar. Aku bergegas keluar. Terang langit yang masih samar bercampur dengan lampu halaman yang masih menyala membuat wajah Rita tampak hangat walaupun aku tahu hatinya membeku melepasku pulang. Tanpa sepatah kata, hanya dalam satu helaan napas, kami berpelukan dan tanpa menoleh lagi aku masuk ke dalam taksi yang membawaku ke bandara.

Hari sudah menjelang petang ketika aku sampai di rumah. Kubuka gerbang tanpa suara. Aku yakin ada orang di dalam karena gorden telah terbuka dan ada bias-bias cahaya dari lampu duduk di ruang tengah. Kuketuk pintu pelan-pelan. Sebuah wajah yang amat kukenal menyembul begitu pintu terbuka.

“Niek?” sepasang mata yang terbingkai wajah maskulin bak samurai dan rambut lurus tebal panjang menatapku terkejut bukan kepalang. “Kamu tidak jadi pulang? Ada masalah dengan penerbanganmu? Kamu di bandara seharian?” Tanyanya berentetan. “Aku pulang, Rita. Ke rumahmu. Ke rumah kita”, bisikku di antara linangan air mata. Sudah lama sekali aku tidak menangis. “Aku pulang”, dan kubiarkan Rita memelukku erat-erat.

***

 

Leave a Reply