Martinis Bebaskan Nagari Silokek Dari Keterpencilan

Martinis, sosok dihormati warga Nagari Silokek.

[P2KP.ORG] – Nagari Silokek, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, adalah salah satu obyek wisata kebanggaan Sumatera Barat. Terdapat lima gua stalaktit-stalakmit dan Sungai Kuantan yang jadi incaran para penggila arung jeram di Indonesia. Begitu indahnya Nagari Silokek sampai ada yang menyebutnya ‘potongan surga yang ada di dunia’.

Sayang, nasib masyarakatnya tidak seelok alamnya. Menurut data Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), penduduk Silokek berjumlah sekitar 1.229 jiwa dan rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Umumnya mata pencaharian mereka adalah sebagai petani karet, dan hanya sedikit petani sawah. Silokek merupakan daerah yang dikeliling oleh bukit berbatu-batu dengan kemiringan sekitar 45 derajat dan sedikit sekali tanah yang dapat dijadikan lahan bercocoktanam.

Meski nagari ini letaknya hanya sekitar 15 kilometer dari ibukota Kabupaten Sijunjung, baru tahun 2008 ini tersedia jalan akses ke sana. Sebelumnya, diperlukan waktu sedikitnya dua jam untuk mencapai Silokek, karena hanya tersedia satu jalan tanah yang hampir selalu berlumpur parah. Bahkan sebelum tahun 2005, warga Silokek pulang-pergi ke pasar naik perahu karena tidak ada jalan darat. Tidak adanya jalan akses bukan hanya menterpencilkan perekonomian warga Silokek, melainkan juga pendidikan anak-anak nagari tersebut. Rata-rata pendidikan warga setempat hanyalah sampai lulus sekolah dasar.

Jalan akses baru desa Silokek
Jalan akses baru desa Silokek

Namun nasib Nagari Silokek berubah dengan mengedepannya seorang warga desa perempuan bernama Martinis yang, seperti warga lain di sana, sekadar lulusan SD. Ia adalah ketua Kelompok Swadaya Masyarakat ‘Lingkungan’, yang didampingi oleh P2KP sebagai penyantun dana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di Nagari Silokek dan sekitarnya. Hanya dengan santunan senilai 4-5 juta Rupiah, kelompok pimpinan Martinis berhasil menyuluh warga setempat memperbaiki sarana dan prasarana kehidupan sehari-hari, seperti membuat jamban keluarga dan rumah yang layak huni. Kegiatan perbaikan dilakukan beramai-ramai dalam semangat urun-tangan dan berat-sama-dipikul, terutama oleh kaum perempuan yang dibimbing oleh Martinis.

Ketika tiba saatnya mewujudkan tekadnya untuk membuat jalan akses bagi Nagari Silokek, Martinis memperlihatkan kearifan yang begitu mengagumkan sewaktu bernegosiasi dengan para ketua dan sesepuh adat setempat untuk membebaskan tanah. Satu demi satu restu diperolehnya. Kelompoknya dengan didukung masyarakat setempat bekerja tanpa pamrih menyelesaikan sendiri jalan keras antara Silokek dengan dunia luar itu. Tidak lama kemudian, jalan pun selesai.

Kini warga Silokek dapat nyaman berkendaraan motor mondar-mandir melalui jalan akses baru tersebut. Anak-anak Silokek pun bisa menyambut hari depan dengan peluang pendidikan yang lebih tinggi.

Sumber: http://www.p2kp.org / 12 Mei 2008

Leave a Reply