Kekuatan Perempuan Pucung Maju Ada Di Tekad Maju Bersama

[PUCUNGMAJU] ~ Desa Pucung adalah sebuah desa yang terpencil di Jawa Tengah. Lokasinya berbatasan langsung dengan tiga kecamatan yang berbeda, Kecamatan Bancak, Kecamatan Suruh, dan Kecamatan Pabelan. Namun, secara ekonomi desa Pucung ini justru bergantung pada Kodya Salatiga bukan pada Ungaran, ibukota kabupatennya. Terpencilnya desa ini membuat perkembangan desa tidak seperti desa-desa lain. Selain karena jalannya buruk, aspalnya sudah rusak total, lokasinya juga jauh dari fasilitas publik seperti pasar, rumah sakit, dan sekolah-sekolah. Geografi desa yang pegunungan membuat pertanian hanya mengandalkan pengairan dari tadah hujan.

“Pucung itu desa yang terpencil, warganya petani semua,” tutur Darodjah, kepala taman kanak-kanak setempat. Namun, lanjutnya, situasi ini tidak menyurutkan usaha warga untuk terus membangun desa. Keterbatasan tersebut terbukti justru membuat warga desa menjadi warga yang pekerja keras.

Semangat untuk membuat perubahan terutama mencuat di kalangan warga perempuan desa Pucung. Mereka mendirikan sebuah koperasi yang diberi nama Koperasi Perempuan Pucung Maju dan sudah berjalan sejak tahun 2006. “Awalnya koperasi ini disosialisasikan di pengajian rutin ibu-ibu Muslimat,” kata Darodjah yang memipin koperasi. “Kemudian setelah pengajian, saya coba koordinasikan dengan ibu-ibu lain tentang rencana pendirian koperasi itu. Akhirnya ada 22 orang sepakat mendirikan koperasi Pucung Maju.”

Untuk memperkuat koperasi, para anggota sepakat menciptakan sumber pemasukan dari tumbuhan teh merah bunga rosella yang selama ini dikenal sebagai tanaman herbal yang memiliki nilai jual cukup tinggi. “Bunga rosella ini kita juga masih buta, tetapi menurut informasi teh merah rosella baik untuk kesehatan. Jadi kalaupun tidak dijual, teh merah bisa menjadi pengganti teh yang biasanya kita harus membeli. Selain membuat kita sehat, kita bisa mengurangi pengeluaran rumah tangga”, kata Darodjah.

Butuh waktu dua tahun untuk panen perdana. Bulan Mei 2008, Koperasi Perempuan Pucung Maju mengumumkan ke luar desa bahwa mereka punya stok 50 kilogram teh merah rosella kering yang ditawarkan dengan harga jual Rp 60.000,- per kilogram. Peminat dapat memesan langsung kepada Darodjah melalui sebuah nomor telepon genggam. Dalam perkembangannya, selain teh merah rosella kering dan bibitnya, koperasi juga menjual kacang tanah dan petai [hasil panen perorangan anggota koperasi yang sayangnya dijual ke tengkulak petai yang menggunakan modus tebas di pohon].

Anggota terus bertambah dan menjelang akhir tahun 2008 menjadi 35 orang. Setiap Senin malam mereka berkumpul di rumah Darodjah untuk bertransaksi.  Pada rapat anggota tahun kedua dibagikan keuntungan bersih dan terkumpul Rp 2,5 juta yang kemudian dibagikan sesuai dengan besarnya andil transaksi masing-masing anggota.

Selain itu, untuk menjawab persoalan pertanian khususnya kesediaan pupuk, para perempuan tani desa Pucung mengorganisasikan diri dalam Kelompok Wanita Tani Pucung Maju. Setiap anggota koperasi otomatis menjadi anggota kelompok tani ini dan mereka yang bukan anggota koperasi diperbolehkan gabung. Pada di penghujung tahun 2008 anggotanya mencapai sekitar 80-an orang.

Berkat kesungguhan berorganisasi, desa Pucung yang sebelumnya tidak pernah memperoleh subsidi pupuk dari pemerintah daerah akhirnya menjadi salah satu desa penerima subsidi pupuk. Jumlah 2 ton yang mereka terima pada bulan Oktober 2008 memang belum memadai untuk menutupi semua kebutuhan pupuk desa, namun ini sudah merupakan prestasi yang mengagumkan dari Kelompok Wanita Tani Pucung Maju. Untuk terus memberi manfaat bagi desa, kelompok tani berkumpul sekali sebulan untuk bersosialisasi sekaligus menatar diri dengan mengundang narasumber dari luar desa seperti Penyuluh Pertanian Lapangan [PPL] untuk membahas persoalan-persoalan pertanian.

Kehadiran Koperasi Perempuan Pucung Maju dan Kelompok Wanita Tani Pucung Maju secara nyata memberi perbedaan. Kalau di masa lalu warga desa sering kesulitan untuk mendapat uang pinjaman, kini mereka punya koperasi yang berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 6 juta untuk digunakan sebagai modal simpan-pinjam anggota. Selain itu, desa tani yang dulu terasa terabaikan dan terpencil ini, berkat tekad maju kelompok wanita taninya, kini berada di dalam jangkauan subsidi pupuk Pemda dan memperoleh akses pendidikan pertanian dan lingkungan di Temanggung.

Hubungan antar tetangga pun sekarang semakin erat dan rukun saja. Pada setiap pertemuan koperasi maupun kelompok tani, para anggota memanfaatkannya sebagai ruang untuk mendiskusikan masalah-masalah kerukunan warga maupun keluarga. Pernah ada seorang warga desa bernama Zamzuri yang lumpuh dan tidak berdaya. Para anggota membahasnya dalam pertemuan dan sepakat untuk berupaya mencari bantuan dari Pemda maupun organisasi-organisasi sosial.

Sekali lagi, berkat kegigihan para perempuan desa Pucung, di bulan November 2008 pihak Dewan kesehatan Rakyat terdekat turun tangan agar Zamzuri dapat memperoleh layanan Jaminan Kesehatan Masyarakat [Jamkesmas]. Meskipun uluran tangan ini belum dimanfaatkan pihak sang calon pasien pada saat ini, tetapi ini sudah membuktikan betapa efektifnya semangat gotongroyong para anggota kedua kelompok perempuan di desa Pucung itu.

Menjelang Lebaran bulan Oktober 2008, seperti biasa harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Para anggota merasa diuntungkan dengan adanya koperasi. Dulu mereka kebingungan menjelang hari Lebaran, tetapi dengan kebiasaan menambung sedikit-sedikit setiap Senin malam di koperasi, setiap anggota diperkenankan menarik tabungannya yang lumayan membukit. Mereka lega karena tidak lagi terpaksa harus menjual simpanan panen jagung, padi dan sebagainya, untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.

Menurut salah satu anggota, ”Saya menabung tidak terasa setiap minggu…tidak tahunya saya kemarin bisa ambil uang Rp. 600.000,-. Ya, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, saya sudah bisa membelikan baju dan pakaian untuk anak-anak saya!” Anggota yang bernama Darmi kelihatan berbinar-binar.

sumber >> http://pucungmaju.blogspot.com

 

Leave a Reply