Kisah Keuletan Tiga Mama Asuh Di Timor Barat

Lari Dari Kawin Paksa, Mandiri Berwirausaha

Elisabeth Namok dan kakak perempuannya, telah kehilangan kedua orang tuanya sejak masih duduk di bangku SD. “Kami hanya dua bersaudara,” katanya. Kemudian ia diangkat dan diasuh oleh pamannya, hingga tamat SD. “Masuk SMP saya ikut dengan seorang pater orang Amerika, namanya, Romo Robert Riise SVD di Noemuti sana sampai tamat.” Lalu melanjutkan sekolahnya ke SMEA di Oekusi-Ambeno, Timor Timur (sekarang district Oecusee-RDTL, Timor Leste). “Waktu itu, saya pilih SMEA dengan pikiran supaya tamat bisa jadi PNS (pegawai negeri sipil – red), tapi sampai sekarang tidak pernah jadi”. Cerita perempuan yang juga pernah punya keinginan untuk menjadi biarawati ini.

Sepulangnya dari Oekusi, setelah tamat SMEA, ia hendak dijodohkan orangtua angkatnya dengan salah seorang kerabatnya. “Masih pangkat oom,” katanya. Pertemuan antara kedua keluarga sudah digelar. Tapi hatinya berontak, kebebasan masa muda akan hilang dalam sekejap. “Saya tidak setuju waktu itu,” kenangnya. “Tapi saya pung (punya – red) orangtua bilang, kamu ini perempuan. Biar sekolah tinggi ju, pulang tetap masuk dapur,” ceritanya lanjut.

“Saya sadari bahwa urusan dapur itu mau tidak mau, sedikit atau banyak, pasti akan kita urus,” katanya menjelaskan sikapnya waktu itu yang tidak menyepakati keputusan orangtua angkat. “Tapi bukan begitu caranya. Saya juga kepingin untuk kerja e.., masa sekolah cape-cape abis langsung kawin.”

42atambuaPertentangan dengan kedua orangtua angkatnya dirasakan tak menemui jalan keluar terbaik baginya. Iapun memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Akibat pertentangan itu pula ia menuai kemarahan kedua orangtua angkatnya. Semua pakaian hingga ijazahnya dibakar. “Saya lari dengan pakaian di badan sa. Pertama saya lari ke Weraihenek,” kenangnya. Di Dusun Weraihenek, yang terletak di perbatasan Timor Timur dan Timor Barat, ia menumpang pada rumah salah seorang temannya. Namun tak lama. Ia kemudian menuju Dili, ibukota Timor Timur, berniat mencari pekerjaan di sana.

Dengan bermodalkan ongkos bis seadanya, ia berangkat mengejar impiannya. Di Dili ia ditolong oleh seorang saudaranya, “Saya pung sepupu laki-laki,” ceritanya. “Dia pung gaji selama dua bulan itu hanya dipakai untuk beli kasi saya pakaian, karena saya pi (pergi-red) hanya dengan yang ada di badan sa to…”.

Tiga bulan pertama, ia masih menggantungkan harapan pada pertolongan sepupunya. “Masuk bulan keempat, saya su (sudah – red) mulai kerja di toko Bintang Dili di Kuluhun. Waktu itu tahun ’93”. Selama itu ia tak pernah berhubungan dengan kedua orangtua angkatnya. Hingga suatu saat di tahun 1996, ia terkejut saat Yanto, anak pertama kakaknya, datang menemuinya di toko tempat ia bekerja dan memintanya untuk menemui kedua orangtua angkatnya yang sudah berada di kosnya di kawasan Becora.

“Mereka datang langsung turun di kos, suruh Yanto datang panggil saya di toko, karena Yanto ini makanya saya mau terima mereka,” kenangnya, raut mukanya berubah muram. Namun menurut dia, hatinya masih belum melupakan semua kejadian yang dialaminya pada masa lalu. “Saya betul-betul terima mereka pas tahun 2003 itu, setelah acara adat di kampung.”

Berbekal ilmu ekonomi yang diperoleh semasa di SMEA dulu, sambil bekerja di toko, ia juga membuka sebuah kios kecil di Becora-Dili. “Ma Ela yang bantu-bantu. Dia juga punya cerita yang mirip dengan saya,” tambahnya. Angelina Bui yang biasa dipanggil Ela ini juga hampir dinikahkan setelah tamat SMP di Lahurus. “Saya dengar itu, jadi saya suruh dia datang ikut saya di Dili,” ujar Ma Elis. “Bahkan sampai sekarang kami masih sama-sama e,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

“Nah kalo Ma Eny ini, kami bakawan itu mulai tahun ’96. Dia kerjanya di tempat lain, tapi kosnya di depan toko tempat saya kerja,” lanjutnya. Karena Eny Mooy sering belanja di toko Bintang Dili, keduanya kemudian berkenalan dan jalinan persahabatanpun dimulai sejak saat itu. “Sore-sore begitu, kalo pas ada hari libur, kami biasa pesiar-pesiar.” Karena semakin akrab dan saling merasakan susahnya hidup terpisah dari keluarga, keduanya memutuskan untuk indekos bersama. Persahabatan mereka terus terjalin hingga mengungsi ke Timor Barat.  bersambung ke halaman berikut >>

Leave a Reply