Perempuan Gunung Bunder Beralih Ke Kayu Bakar Tanpa Menebang

sumber >> Esai Foto Perempuan Gunung Bunder oleh Eko Bambang Subiantoro

Perempuan Gunung Bunder.

Kenaikan Bahan Bakar minyak (BBM) 24 Juni 2008 lalu benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Harga minyak tanah tidak hanya semakin berat untuk dijangkau, namun juga terkadang langkah.

Sementara pada satu sisi, hidup harus terus berjalan tanpa peduli apakah masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya atau tidak. Tidak pernah terbayang bagi mereka untuk protes kenaikan.  Jangankan untuk protes, memikirkan bagaimana setiap hari bisa hidup saja sudah begitu rumit. Setidaknya pemerintah tidak tuli dan mendengarkan apa kesulitan mereka untuk terus bertahan, sehingga kenaikan BBM benar-benar menjadi pertimbangan yang matang.

Terus bertahan dalam kesulitan dan terus menyulut asap dapur itulah yang dilakukan oleh perempuan-perempuan yang tinggal di sekitar Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Di saat harga BBM terus melambung tidak ada pilihan lagi mereka harus menambah aktivitasnya dengan mencari kayu bakar di hutan Gunung Bunder. Mereka tidak mampu lagi memasak dengan minyak tanah, selain mahal, terkadang stock minyak tanah tidak ada. Yang mereka cari adalah ranting-ranting yang sudah jatuh atau yang masih di pohon tetapi yang sudah mengering, jadi sama sekali tidak merusak hutan.

“Harga minyak naik terus mas, sementara kami tidak punya penghasilan tetap, jadinya ya mencari kayu bakar saja untuk memasak” ujar ibu Leli sambil mencari ranting-ranting kering. Aktivitas mencari kayu bakar ini sebelumnya memang sudah ada, namun jumlah perempuan yang mencari kayu bakar semakin banyak, setelah kenaikan BBM.  Selain memang ada yang dipakai sendiri, mereka ada yang mencari kayubakar untuk dijual ke penduduk kampung. Kayu bakar di daerah ini memang menjadi andalan pengganti minyak tanah.  Tanggungjawab perempuan-perempuan ini adalah tanggungjawab terhadap keluarga. Beban mereka bertambah karena harus mencari kayu bakar.

gunung_bunderPagi-pagi sekitar pukul 06.00 mereka berangkat sampai pukul 10.00. Pulang tidak lantas istirahat, tetapi harus menyiapkan masak dan melakukan aktivitas lain mencuci, mengurus anak dan pekerjaan domestik lainnya.

Begitu setiap hari aktivitas perempuan-perempuan ini. “Pak SBY, jangan naik terus BBM, kita yang gak tau apa-apa jadinya tambah susah. Iya kalo ada ranting, kalo tidak kita tidak bisa memasak, Ujar ibu Lita. Harapan ibu Lita ini hampir senada dengan sejumlah perempuan-perempuan pencari kayu bakar ini.

Mereka tidak mengerti politik, tidak mengerti harga minyak dunia, yang tau hanya harga minyak tanah naik, karena itulah kebutuhan mereka. Pemerintah memang seharusnya sudah mulai mendengar dan melihat, tidak menutup kata dan telinga terus, jika memang ingin benar-benar memberikan kesejahteraan masyarakat.

Menjelang Pemilu nanti, biasanya beterbangan rayuan, iming-iming, janji manis kesejahteraan masyarakat. Semua partai politik, semua kandidat anggota parlemen berlomba-lomba mencari simpati masyarakat. Sekarang sudah saatnya perempuan-perempuan ini berani mengatakan tidak untuk janji-janji, karena janji manis kesejahteraan seringkali berbuah keterpurukan dan kesulitan hidup. Sampai kapan kebijakan pemerintah membuat mereka benar-benar tersenyum?


Eko Bambang Subiantoro – photography
http://kinyur.multiply.com

Leave a Reply