Terus Membakar, Semangat Batik Bakaran Warisan Nyai Ageng

Punden Nyai Ageng

Bagi masyarakat Bakaran kemahiran membatik tak lepas dari peran Nyai Ageng. Nyai Ageng alias Siti Sabirah ini kabarnya adalah keluarga dari Majapahit. Ada yang mengatakan, Nyai Ageng bernama asli Danowati. Kala itu, ketika Majapahit hendak diserang pasukan dari kerajaan Demak, bersama kakaknya ia melarikan diri. Dalam pelarian, sampailah mereka di Juwana. Di tempat itulah kemudian, mereka babat alas. Selesai babat, Nyai Danowati kemudian membakar babatannya sehingga nama itu pun kemudian terkenal dengan “bakaran”.

Setelah Nyai Ageng moksa, ia masih membantu warga dengan memberi warna (medelke) pada setiap kain mori yang ditaruh di sumurnya. Biasanya, setelah diletakkan di sore hari, paginya, warna mori sudah berubah biru. Karena itu pula mungkin muncul mitos, bahwa batik Bakaran itu, “Cek rupane olo lah macem dingo,” kata Bu Tini. Artinya, meski warnanya jelek sekalipun, tetap pantas untuk dipakai. Para pembatik juga masih berziarah ke punden Nyai Sabirah terutama Kamis Kliwon atau saat malam Jumat Legi.

Petilasan Nyai Ageng berada di Jalan Mangkudipuro, berada di samping persis Kelurahan Bakaran Wetan. Punden Nyai Ageng juga bersebelahan dengan petilasan dari ki Dalang Soponyono. Punden Nyai Ageng, berjarak sekitar satu kilometer dari alun-alun Juwana. Suatu siang, saat Srinthil ke situ, tak ada satupun orang yang sedang berziarah. Tiga penjual bunga di seberang jalan juga hanya duduk-duduk saja karena sepinya. Di Punden Nyai Ageng, di depannya terdapat tempat seperti masjid tetapi tak ada mihrabnya, kabarnya, tempat ini adalah untuk mengelabuhi pasukan Demak. Di banding tempat keramat, punden Nyai Ageng tak menampakkan wajah ‘angker’. Di siang hari, karena berada di pinggir jalan, ramai olah lalu lalang kendaraan.

Meskipun begitu, hingga kini masyarakat di sekitar Bakaran masih patuh atas apa yang dititahkan Nyai Sabirah. Selain soal tradisi membatik yang masih bertahan, mereka juga masih patuh untuk tak menjual nasi. Selain itu, masyarakat Bakaran juga masih ada yang membawa bayinya ke sumur di punden Nyai, memutari sumur dan melempar uang ke dalamnya. Sementara, para pengantin juga diarak mengelilingi sumur sebanyak tujuh kali. Masyarakat juga masih percaya bahwa untuk menyelesaikan masalah, mereka bersumpah dengan meminum air sumur. bagi yang salah, mitosnya akan celaka.

Selain itu, orang yang mau berziarah juga tak ada yang berani membawa ingkung (ayam) karena, Nyai ageng tak mau menerima ingkung dan bagi siapa yang membawa ingkung ke situ, ingkungnya akan mentah lagi meski sudah berkali-kali dimasak.

Tiap tanggal 1 Muharram, saat pergantian klambu, di punden Nyai Ageng digelar ketoprak. Tapi lakon yang dimainkan tak pernah mengangkat tema Nyai Ageng, karena suatu ketika, saat mementaskan ketoprak dengan lakon Nyai Ageng, akibatnya kualat. Sementara di bulan besar (Dzulhijjah), di Bakaran juga digelar Wayang. Ramainya punden, biasanya sore. Konon, orang yang ingin mengejar jabatan tinggi Pemerintah pun banyak yang ke sana. :: srinthil.org/jan2012

 

http://srinthil.org/83/para-penerus-nyai-sabirah/

foto >> http://www.antarafoto.com/bisnis/v1286367606/batik-bakaran | http://batikindonesia.com/tag/makalah-batik-bakaran

 

 

 

Leave a Reply