Dr Indri Lakshmi Putri, Ahli Bedah Kraniofasial Nan Langka

dr. Indri Lakshmi Putri, Sp.BP-RE (KKF) menerangkan tentang ilmu kraniofasial di Rumah Sakit Universitas Airlangga. (Foto: UNAIR NEWS)
dr. Indri Lakshmi Putri, Sp.BP-RE (KKF) menerangkan tentang ilmu kraniofasial di Rumah Sakit Universitas Airlangga. (Foto: UNAIR NEWS)

 

UNAIR NEWS – Wajah adalah identitas seseorang. Prinsip itulah yang melatari dr. Indri Lakshmi Putri, Sp. BP-RE (KKF) untuk menjadi dokter ahli bedah plastik rekonstruksi kraniofasial. Profesi ini terbilang langka di Indonesia, mengingat ahli yang dimiliki baru berjumlah belasan.

Dokter perempuan itu ditemui di tengah kesibukannya ketika menjalani praktik di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Sambil mengenakan jas putih khas dokter, ia bercerita cukup banyak tentang minatnya terhadap bidang kraniofasial, praktik operasi, dan sejumput kehidupan di luar profesinya.

“Wajah itu identitas seseorang. Jika orang bertemu Anda, pasti yang diingat adalah wajah. Mau tidak mau, orang akan melihat fisik terlebih dahulu dan itu diwakili oleh wajah. Secara tidak langsung, akibat wajah, seseorang bisa diterima atau tidak di suatu komunitas,” tutur perempuan yang akrab disapa dokter Putri ini.

Kraniofasial adalah salah satu bidang kajian ilmu bedah plastik yang membentuk serta memperbaiki fungsi dan penampilan seseorang pada tulang wajah, tulang kepala, dan jaringan lunak. Misalnya, kelainan alat indera seperti telinga, atau bentuk wajah yang abnormal. Maka, tugas ahli kraniofasial adalah merekonstruksi wajah dan kepala sampai bentuk dan fungsinya mirip seperti normal.

“Kita memperhatikan tampilan akhir supaya bisa memberikan kebahagiaan yang bisa dinilai secara psikis. Karena biasanya, orang datang ke kita dalam keadaan yang tidak happy,” tutur dokter Putri.

Ia mengakui, bidang ilmu kraniofasial yang ditekuninya tak banyak diminati oleh rekan-rekan spesialis bedah plastik sejawatnya.

“Kalau sedang seminar kraniofasial, itu nanti masuk ke ruang untuk kajian estetika, hand and surgery, dan kraniofasial. Biasanya (dokter, -red) yang masuk ke kraniofasial hanya 10 – 20%. Itu sudah mencerminkan bahwa banyak yang tidak mau masuk ke kraniofasial karena operasinya cenderung njelimet. Kalau estetika, bentuk hidung dua jam udah selesai. Dibandingkan kami bikin kuping, 6 – 8 jam operasinya,” tutur dokter Putri.

Beragam Tantangan

Merekonstruksi wajah dan kepala manusia merupakan tantangan tersendiri bagi dokter lulusan Fakultas Kedokteran UNAIR. Diperlukan ketelitian dan kehati-hatian agar pasien senang menerima ‘wajah baru’ yang dibuat sang dokter.

Seperti contoh kasus operasi dua pasien kakak-beradik pada Kamis (17/3) silam. Dokter Putri bersama tim dokter yang terlibat berhasil mengoperasi dua pasien crouzon syndrome dengan teknik pemanjangan tulang wajah tengah. Teknik operasi ini pertama kali dilakukan di Indonesia.

“Itu permasalahannya adalah pertumbuhan tulang dahi dan tulang wajah tengahnya terhambat. Bentuk wajahnya seperti nenek-nenek. Operasi tahap pertama menangani wajah atas (tulang dahi). Kita majukan ke depan tulang dahinya, karena apabila tulangnya tidak bisa tumbuh, otaknya akan tertekan. Kalau otak tertekan, dia tidak bisa berkembang. Matanya juga agak keluar,” tutur dokter 33 tahun ini.

Pada operasi yang berkolaborasi dengan tim dokter Erasmus Medical Center, Belanda, dokter Putri membentuk tulang agar mirip seperti normal. Tantangannya adalah, membentuk tulang yang bersifat patologis. Tulang yang patologis biasanya cenderung tipis dan asimetris.

Setelah tulang wajah atas terbentuk, tim dokter bertugas membentuk tulang wajah bawah agar jalan napas lebih mudah.

“Kalau tersumbat, pasti akan banyak problem. Operasi berakhir pada tahap estetika. Kita bentuk wajahnya agar dia bisa diterima oleh lingkungannya,” tutur dokter yang hobi bermain basket ini.

Selain pemanjangan tulang wajah, dokter Putri juga pernah melakukan operasi terhadap pasien tanpa telinga (microtia). Tindakan untuk kasus sejenis ini dilakukan sebanyak dua tahap dengan risiko tinggi. Risiko terburuk adalah terjadinya pendarahan dan meninggal. Oleh karena itu, tindakan ini dilakukan dengan cukup hati-hati karena melibatkan pemindahan kulit.

Buat Sendiri Telinga Dari Tubuh Pasien

Dokter harus membuat sendiri telinga dengan menggunakan material dari tubuh pasien. Untuk membuat telinga, ia harus menyesuaikan pola telinga normal milik pasien.

“Kita bikin patron. Patron itu digunting lalu kita sterilkan. Kita bikin telinga itu dengan menggunakan empat iga (tulang rusuk), dan akhirnya saya bentuk jadi kuping. Jadi, ada seni memahat dan menyerutnya juga. Udah kayak pengrajin bikin patung,” cerita dokter Putri.

Rasa tidak puas terhadap berbagai operasi yang pernah dokter Putri lakukan, mendorongnya untuk terus meng-update ilmu kedokteran. Ibu dua anak itu bercerita, selama enam bulan pada tahun 2015 lalu, ia menghabiskan waktunya untuk menimba ilmu rekonstruksi kraniofasial di tiga negara. Yaitu Craniofacial Center Erasmus Medical Center di Belanda, Chang Gung Craniofacial Center di Taiwan, dan Nagata Microtia and Reconstructive Plastic Surgery Clinic di Jepang.

Ilmu kraniofasial yang ditekuninya membawa hasil. Contohnya, kasus microtia. Sambil menunjukkan berbagai contoh telinga yang pernah ia buat, dokter Putri merasa ada perbaikan terhadap bentuk telinga yang pernah ia buat selama ini.

“Mereka bilang, Dok, kayaknya satu kali operasi aja udah cukup. Kita bilang, nggak bisa kan telingamu masih tertanam aja. Tapi dia happy, karena akhirnya dia senang bersosialisasi dengan teman-temannya. Dia antusias pulang dari rumah sakit. Dia bilang kalau dia mau kasih tahu ke guru dan teman-temannya kalau dia punya kuping baru. Hal-hal itulah menurut saya nilainya tidak bisa dinilai dengan uang. Itu kepuasan pasien juga karena dia tidak minder lagi,” kenang dokter yang akan menempuh studi doktoralnya di FK UNAIR pada September 2016.

Anjuran dr Putri pada Masyarakat

Tantangan lainnya, dalam operasi kraniofasial adalah kurangnya informasi yang cukup di masyarakat, bahkan pada tenaga medis itu sendiri. Dokter Putri mengimbau agar mereka mencari kebenaran informasi kepada pihak yang berkompeten. Karena tak jarang, abnormalitas itu sudah diketahui sejak dalam kandungan, namun tak kunjung dirujuk ke rumah sakit yang memadai.

“Jangan sepelekan pasien-pasien dengan kelainan pada wajah. Hubungi ahli bedah plastik, karena kita (ahli kraniofasial) cuma ada di kota besar. Dan, cari informasi di internet. Kami berharap agar tidak ada pasien yang datang dengan late condition. Mereka (pasien) yang memiliki kelainan pada telinga, itu datang ke kami di usia lebih dari 16 tahun semua. Apa yang terjadi? Tulang rawannya susah dibengkokkan karena udah mengeras. Bentuk memahatnya jauh lebih susah dibandingkan operasi pada usia sembilan atau sepuluh tahun,” ungkap dokter yang pernah tampil di Java Jazz Festival.

Operasi kraniofasial saat ini sudah bisa dilakukan di RS UNAIR. Selain dilengkapi dengan kamar serta peralatan operasi dan tim medis yang kompeten, operasi kraniofasial juga dijamin oleh asuransi kesehatan (BPJS Kesehatan).

“Koordinasi mudah kita lakukan, karena baik di Soetomo (RSUD Dr. Soetomo) dan RS UNAIR, departemennya di bawah UNAIR. Kalau di Soetomo, loading pasiennya banyak sekali. Antrian BPJS tidak karu-karuan. Dengan adanya RS UNAIR, sedikit banyak bisa membantu pasien-pasien agar bisa dioperasi lebih cepat,” tutur dokter Putri.

Ia berharap, keberadaan RSUD Dr. Soetomo dan RS UNAIR bisa menjadi pusat rujukan tertinggi di Indonesia bagian timur, bahkan rujukan nasional untuk kasus kraniofasial. :: UNAIR NEWS/Defrina Sukma S. + Binti Q. Masruroh/13jun2016