Sulastri Bangun Kesejahteraan Dusun Dasun Melalui Paguyuban

[ALHARAKA] – Banyak orang yang ingin merubah wajah desanya. Dari sekian orang itu, kaum perempuan tidak kalah penting perannya. Bahkan mereka kadang jauh melampaui pikiran kita selama ini, bahwa perempuan hanya untuk melengkapi perubahan yang dilakukan oleh laki-laki saja.

Hal ini terlihat dalam sosok Sulastri, Ketua Paguyuban Perempuan ‘Sido Rukun’ Dusun Dasun, Desa Joho, Kecamatan Semen, Kediri,  yang telah  membuktikan kemampuannya dalam mengupayakan perubahan. Organisasi yang dipimpinnya mempunyai cita-cita sangat tinggi, membuat masyarakat sejahtera di desanya sendiri dengan  meningkatkan mutu kehidupan, kemakmuran, dan keadilan.

Tanggal 28 Mei  2007 merupakan hari bersejarah bagi kelompok perempuan Dusun Dasun, hari itu tepat satu tahun usia Paguyuban Perempuan Sido Rukun berdiri. Rona bahagia terpancar dari puluhan perempuan yang hendak merayakannya. Tidak terkecuali bagi Sulastri, 29 tahun, salah satu warga yang menjadi pelopor terbentuknya perkumpulan perempuan di dusun tersebut.

Sulastri adalah salah satu dari sekumpulan perempuan desa yang menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Hanya dengan jalan berkumpul mereka yakin akan menjadi sejahtera. “Kami merayakan setahun kebersamaan kami dalam paguyuban. Hanya perayaan kecil yang menandakan kebahagiaan kami, tidak sekedar memiliki organisasi, tetapi bagaimana paguyuban ini nanti bisa memberikan banyak manfaat bagi warga,” kata Sulastri mantap.

Perayaan ulang tahun pada hari Senin malam Selasa itu memberikan pengharapan besar bagi terwujudnya cita-cita bersama kaum perempuan untuk membangun desa dan memunculkan perubahan. Karena tujuan paguyuban itu terbentuk adalah untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hak-haknya. “Acara itu terlaksana berkat kekompakan semua anggota yang dengan suka rela memberikan iuran sebesar Rp 4.000 per orang. Sebenarnya tidak ada persiapan khusus karena acaranya mendadak. Kita baru sepakat merayakan ulang tahun pada hari Sabtu, 26 Mei , saat arisan beras. Tiba-tiba ide itu muncul  dan disetujui oleh semua anggota. Dari uang yang terkumpul sebanyak Rp 244 ribu kami gunakan belanja bahan-bahan untuk selamatan. Akhirnya jadilah acaranya seperti kemarin,” ungkap Ketua Paguyuban yang memiliki satu orang anak hasil perkawinannya pada tahun 1998 ini.

Yang menjadi renungan bersama saat perayaan, keberadaan paguyuban mampu mendorong para perempuan desa dengan gagasannya untuk lebih maju. “Tidak disangka, ibu-ibu yang dulu sangat pemalu dan acuh dengan kondisi lingkungannya, sekarang menjadi lebih berani dan peduli. Salah satu contoh, munculnya satu anggota paguyuban, Damiyati, yang tampil dalam bursa pencalonan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Dengan bekal keyakinan bahwa kita tidak perlu takut selagi tidak melakukan kesalahan. Saya senang dengan kemajuan perempuan disini, karena dulunya Damiyati itu pemalu dan takut jika berhadapan dengan orang banyak,” ujar Sulastri bangga.

Kemajuan kelompok bisa dilihat dari jumlah anggota, pada saat pertama kali dibentuk diikuti sekitar 45 orang, dan sekarang bertambah menjadi 61 orang. “Paguyuban Sido Rukun merupakan organisasi perempuan pertama di Desa Joho yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan pendidikan dan ekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, paguyuban melakukan kegiatan-kegiatan seperti mengembangkan lembaga Taman Pendidikan Al-quran (TPQ), arisan beras, koperasi simpan-pinjam, pengembangan usaha keripik pisang dan usaha-usaha lain, serta beternak kambing yang semuanya memberikan manfaat bagi anggota ,” kata Nurpiah, Ketua Koperasi Sido Makmur, salah satu program kegiatan paguyuban Sido Rukun.

Berkat adanya kelompok usaha di Paguyuban Sido Rukun, Sulastri  mewakili Kader Pokja III PKK Desa Joho, diikutkan  dalam Lomba Potensi Produk Olahan Tanaman Pangan dan Holtikultura. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten. Sulastri didaulat mewakili kecamatan Semen, mengikuti lomba tersebut di ruang Sekartaji Pendopo Kabupaten Kediri pada tanggal 20 Juni 2007 lalu. Sebelumnya, dia juga mendapat juara III pada lomba yang sama tingkat kecamatan yang diselenggarakan di Kecamatan Grogol pada tanggal 29 Mei 2007.

Sebagai sebuah prestasi yang dicapai perempuan Dasun, pada tanggal 27 Juni 2007, Sulastri juga dipercaya mewakili kelompoknya memenuhi undangan pemerintah Kabupaten Kediri, sebagai Kader Pelopor Sektor Usaha. Dalam kesempatan itu, Sulastri yang didampingi pejabat pemerintah Kecamatan Semen, diberi kesempatan menyampaikan seluruh kegiatan Paguyuban Perempuan Sido Rukun yang selama ini telah berjalan.

Perempuan Bisa Jadi Pemimpin

Pekerjaan selanjutnya yang tidak boleh dilupakan, jangan sampai organisasi di dusun/desa hanya sebagai penonton. Karena apapun masalahnya, tidak bisa lepas dari sebuah kebijakan pemerintah desa dan kabupaten. Maka, yang harus dilakukan adalah organisasi masyarakat harus terlibat dalam menentukan kebijakan di tingkat desa. “Bukan jabatannya yang membuat saya tertarik, namun ada keinginan yang lebih besar untuk menjadikan desa sebagai tempat tinggal yang nyaman. Dimana para perangkatnya mau mengerti keinginan warga, memperhatikan kebutuhannya dan mendengar segala keluh kesahnya,” kata Sulastri.

Yang utama bahwa, dengan menjadi kepala desa secara otomatis akan lebih mudah untuk membuat kebijakan pemerintah yang mementingkan warga. Sehingga nantinya bisa lebih tahu apa yang  menjadi program pemerintah Kabupaten dan bagaimana menjalankan program tersebut di tingkat desa. “Selama ini kita tidak tahu apa-apa tentang program pemerintah. Pencalonan saya saat ini semata-mata agar masyarakat dekat dengan pusat pemerintahan di tingkat desa (kepala desa). Saya akan sangat legowo mengundurkan diri bilamana ada kandidat yang juga berasal dari Dasun. Namun bukan berarti kita mementingkan kelompok sendiri. Selama ini Dasun seakan terisolir karena sangat sedikit dari warganya yang menjadi pejabat pemerintah di desa. Untuk ke depan diharapkan hal itu tidak akan terjadi, bahwa pembangunan harus merata dan dirasakan oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.

Sikap optimis ini didukung oleh kondisi desa yang menurut Sulastri sangat kaya akan potensi alam. Jika sampai hari ini masyarakat masih miskin, itu karena mereka tidak mempunyai pengetahuan dan informasi yang cukup untuk mengembangkannya. “Saya punya banyak mimpi untuk bisa membangun desa. Diantaranya akan menggerakkan masyarakat melalui koperasi dan mendirikan lumbung desa, berswadaya membangun tempat wisata yang ada sekaligus memperkenalkan produk-produk lokal dengan membangun pasar desa di sepanjang jalan menuju wisata, memberdayakan potensi pemuda dan menghidupkan lagi musik lesung sebagai kekayaan seni lokal. Saya juga punya keyakinan, kedepannya masyarakat Joho bisa kaya dengan memanfaatkan potensi alam, salah satunya bunga rosella,” ungkapnya.

Pemikiran Sulastri ternyata mampu menginspirasi banyak perempuan untuk maju, termasuk di Dusun Nongkopait. “Terus terang, saya terinspirasi oleh Paguyuban Sido Rukun, yang berani berjuang untuk kemajuan desanya. Apa yang kami lakukan sekarang ini dengan membentuk kelompok arisan dan koperasi  adalah berkat dorongan semangat dari para perempuan Dasun. Dan kami dari golongan perempuan akan ikut berjuang untuk kemajuan Desa Joho,” kata Widyaningsih yang biasa dipanggil Mbak Ning, Ketua Koperasi Sumber Makmur-Sumberejeki Dusun Nongkopait.

Akan sangat membanggakan bila keberadaan satu kelompok kecil di desa mampu memberdayakan diri dengan mengelola segala sumber daya secara mandiri. Upaya berdikari telah coba dilakukan oleh para perempuan Desa Joho yang bercita-cita merdeka dalam segala bidang, politik, sosial, ekonomi, pengetahuan dan informasi. Yang pada akhirnya nanti mampu melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan yang selama ini masih tumbuh subur. Adanya monopoli pemodal dan kebijakan harga produksi pertanian yang tidak berpihak kepada petani melahirkan pemberontakan dalam bentuk pemberdayaan kelompok usaha kecil yang bermuara pada pemenuhan kebutuhan anggota. (Rini M Yunita)

www.alha-raka.org

dimuat di website >> www.selamatkan-indonesia.net


Leave a Reply