Hati Emas Membawa Lusia Efriani Ke Emas Hitam

Bertauladan pada ibunda, Lusia Efriani memilih untuk terjun di bidang pendanaan UKM untuk dapat membantu peningkatan kesejahteraan kaum lemah ekonomi.

Belajar Hidup Berpeduli

Arang tempurung kelapa, bagi Lusia adalah emas. Emas hitam. Berawal dari emas hitam inilah kehidupannya juga mengalir, hingga sampai di Batam, Kepulauan Riau. Bermula dari kehidupan masa remaja yang penuh perjuangan, anak keempat pasangan Maria Susiati dan J. B Max Kiroyan ini sejak semester pertama kuliah sudah harus bekerja paruh waktu sebagai guru sempoa dan guru bahasa inggris disela-sela kesibukan kuliahnya. Semuanya ia lakukan untuk membantu keuangan keluarganya.

Meski bukan dari kalangan keluarga berada, tetapi ada yang selalu Lusia ingat saat ia masih kecil dan menjadi kenangan yang tak pernah ia lupakan saat hidup di tengah-tengah kota Surabaya. Sang ibu, Maria Susiati, gemar membantu gelandangan di jalan untuk dibawa ke rumahnya yang sempit. Gelandangan itu dimandikan, kemudian diberi makan, hingga beberapa hari lamanya . Semula ia memprotes apa yang dilakukan ibunya, mengapa banyak gelandangan di rumahnya. Bukankah pemandangannya menjijikkan? Namun setelah ia dewasa, Lusi, demikian ia akrab dipanggil, mulai memahami apa yang dilakukan ibunya adalah sebuah kepedulian, sebuah kebaikan untuk sesama.

Lulus kuliah, Lusi menikah. Suaminya, saat itu mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik di Batam. Berawal dari sinilah hidupnya bergerak dari Surabaya ke Batam. Sebagai keluarga muda yang perlu dukungan finansial, Lusi bekerja di rumah sakit ternama di Batam untuk menambah keuangan keluarga. Namun tak seberapa lama ia harus mengundurkan diri karena hamil.

Setelah melahirkan Nailah Parahita Putri Prayogo, dan Muhammad Abstrax Danendra Putra Prayogo, ibu dua anak ini hanya menghabiskan waktunya dengan membuka usaha kecil-kecilan, mulai dari membuka wartel, menjadi distributor pulsa, membuka usaha travel dan biro perjalanan, membuka usaha percetakan, dan berbagai usaha lainnya, namun semua usaha yang dirintisnya itu berakhir dengan kegagalan.”Saat bangkrut itu saya bingung. Mau ngapain,” cetusnya.

Ia teringat melihat kesibukan ibunya yang banyak mengurus gelandangan. Ia berfikir, mungkinkah terjun di dunia sosial untuk mengisi waktunya? Kebetulan saat itu Bank Indonesia di Batam membutuhkan beberapa orang untuk dididik sebagai Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) atau biasa disebut Pembina UKM. Ia mendaftar, ikut seleksi dan lolos. Proses berikutnya ia memperoleh pendidikan untuk menjadi seorang KKMB di bawah naungan BI dengan tugas membantu membina usaha kecil dan menengah di Batam yang belum bankable menjadi bankable. >>

 

Leave a Reply